Mendengkur merupakan masalah tidur yang bisa dialami pria dan wanita. Meskipun umum terjadi, mendengkur tetap saja mengganggu terutama pada teman tidur. Mendengkur saat tidur terkadang hanya dianggap sepele, hanya karena kelelahan saja. Padahal, kebiasaan mendengkur menunjukkan adanya masalah dalam halkesehatan.
Jika dilihat dari frekuensinya, mendengkur merupakan sebuah gangguan tidur yang bisa menimbulkan baik konsekuensi medis maupun sosial.
“Pernah pada suatu waktu, saya tidur sama teman di daerah, bunyi dengkurannya bukan main, sangat menggangu, saya tidak dapat tidur dibuatnya. Telinga saya sudah ditutup dengan bantal, tetapi masih saja kedengaran bunyi dengkurannya”. Karena tidak tahan mendengarnya, saya membangunkannya kemudian menyuruhnya miring, setelah itu baru saya dapat tidur.
Ingin tahu cara menghentikan dengkuran? Ada beberapa cara sederhana yang bisa anda lakukan.
1. Tidur telentang
Dengkuran terjadi karena adanya gangguan pada saluran pernafasan. Menurut situs health.howstuffworks.com, sebaiknya Anda berada dalam posisi miring saat tidur. Hal itu membuat aliran udara di tubuh menjadi lebih lancar dan menghindari terjadinya dengkuran.
Jika Anda berada dalam posisi tengkurap, perut dan leher akan mengalami tekanan, dan membuat udara sulit mengalir dan mengalami sumbatan, dan yang terjadi kemudian Anda akan mengeluarkan suara dengkuran.
2. Kurangi berat badan
Salah satu faktor yang memicu terjadinya dengkuran adalah berat badan yang berlebihan. Jika Anda memiliki lipatan lemak disekitar leher, sebaiknya Anda harus segera menjalankan program diet.
Karena, lipatan lemak disekitar leher membuat aliran udara menjadi terhambat dan membuat Anda mendengkur. Selain itu, juga bisa mengakibatkan masalah pernafasan yang bisa menyebabkan kematian.
3. Kurangi konsumsi alkohol dan pil tidur
Alkohol dan pil tidur memang bisa membuat Anda menjadi lebih rileks
tetapi bisa melemahkan sistem saraf di bagian rahang dan tenggorokan.
Melemahnya sistem saraf itu membuat nafas menjadi berbunyi atau
mendengkur saat tidur.
Keadaan itu juga bisa memicu kesulitan bernafas saat tidur yang juga berhubungan dengan penyakit kardiovaskular. Sebaiknya konsultasikan gangguan tidur yang Anda alami dengan dokter, jangan sembarang mengonsumsi pil tidur.
4. Hindari pemicu alergi
Alergi kronis biasanya memicu masalah pernafasan, dan hal itu juga
menjadi penyebab dengkuran. Jika Anda memiliki penyakit alergi sebaiknya hindari pemicunya.
Misalnya Anda sangat alergi dengan udara dingin, usahakan untuk mengatur suhu kamar agar tidak membuat alergi menjadi kambuh dan Anda sulit bernafas, dan jangan lupa bersihkan secara teratur kamar dan peralatan tidur Anda.
5. Sediakan mouth guard
Jika dokter Anda menyarankan untuk menggunakan mouth guard, tidak ada salahnya untuk membelinya. Alat tersebut akan menahan gigi dan menjaga otot rahang bawah tidak melemah dan bisa mengurangi dengkuran.
6. Berhenti merokok
Merokok adalah salah satu penyebab Anda tidur mendengkur. Sistem
pernafasan tertutup oleh zat-zat yang berasal dari rokok, dan hal itu
membuat Anda kesulitan bernafas saat tidur dan akhirnya mendengkur.
7. Tidur teratur
Tidur cukup dan teratur adalah salah satu cara untuk menghentikan
dengkuran. Usahakan untuk tidur dan bangun di waktu yang sama setiap
harinya.
8. Periksakan ke dokter jika mendengkur saat hamil
Terkadang, wanita mulai mendengkur saat sedang hamil. Hal itu,
disebabkan naiknya berat badan dan perubahan hormon selama kehamilan.
Apapun penyebabnya, sebaiknya periksakan ke dokter karena mendengkur saat hamil bisa menjadi indikasi bayi dalam kandungan mengalami kekurangan oksigen.
9. Mengangkat kepala saat tidur
Tidur dengan posisi kepala yang agak tinggi membuat Anda lebih mudah bernafas. Cobalah gunakan bantal yang agak tinggi saat tidur, hal itu akan membuat pernafasan menjadi lebih lancar dan mencegah terjadinya dengkuran.
Blog ibuselma berisi tulisan tentang hal yang berkaitan dengan kehidupan ibu rumah tangga seperti kesehatan,resep masakan dan kue, pendidikan,kecantikan,pekerjaan,tanaman,hiasan dan seks
Tampilkan postingan dengan label Info Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Senin, 13 Februari 2012
Tips Praktis Cara Mengatasi Anak Balita Susah Makan
Tips Praktis Cara Mengatasi Anak Balita Susah Makan – Selamat pagi Bunda, Apakah Anda mengalami permasalahan bahwa anak Anda susah sekali untuk makan padahal lauknya juga enak? Sudah dikasih goreng ayam, bistik daging sapi dan lain-lain tetap saja tidak mau makan. Masalah sulit makan pada umumnya dialami oleh anak saat usia balita.
Biasanya masalah semacam ini sering kali dijumpai pada mereka yang berusia anak 1-4 tahun. Ada banyak hal yang menyebabkan anak susah makan.sebab bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhankebutuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb. Apalagi jika masih dalam tahap pengenalan makanan baru.
Berikut ini adalah beberapa tips singkat cara mengatasi agar anak balita Anda senang makan
1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.
Salah satu penyebab adalah anak merasa bosan dengan menu makanan sebab Menu makan saat bayi (usia di atas 6 bulan) sering kali sama atau itu-itu saja tentu saja hal itu akan membuat anak bosan serta malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yang campur aduk antara lauk pauk seperti makanan diblender jadi satu. Sama seperti orang dewasa, kalau kita makan dengan menu yang sama tiap hari dan disajikan dengan campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dengan pengenalan makanan kasar.
Tips: Anda dapat memvariasikan menu makan anak. Jika perlu buatlah menu makan anak minimal selama 1 minggu hal tersebut dimaksudkan untuk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung kreativitas para ibu memberikan makanan bervariasi. Contohnya kalau anak tidak mau nasi, mungkin bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yang menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hiasi dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.
2. Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan.
Hal ini akan mengakibatkan anak tidak merasa lapar. Seperti permen, minuman ringan, coklat, hingga snack ber-MSG, dsb. Akibatnya ketika jam makan tiba anak sudah kekenyangan, dan malah tidak mau makan.
Tips: Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat seperti potongan buah, sayur kukus, keju, yoghurt, es krim, cake buatan ibu, dsb.
3. Minum susu terlalu banyak.
Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan dewa yang bisa menggantikan makanan utama seperti nasi, sayur dan lauk pauknya Orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar. Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti dengan susu..Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1 tahun, kehadiran susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib. Secara gizi, susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja. Sementara kalsium dan fosfor ini dapat kita temukan dengan mudah pada jenis ikan-ikanan, sayuran dan buah-buahan.
Tips: Saatnya mengurangi susu. Anaka usia di atas 1 tahun karena kebutuhan susu hanya 2 gelas sehari. Mulailah melatih anak dengan berbagai jenis makanan baru. Ubah pola pikir orang tua yang terlalu “mendewakan” susu sebagai makanan anak.
4. Pengaruh kebiasaan orang tuanya.
Anak suka meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya, terutama orang tuanya. Banyak perilaku yang dilakukan orang tuanya yang mempengaruhi perilaku makan anak. Misalnya anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang malas makan, misalnya diet, akan mengembangkan perilaku malas makan juga. Perilaku lainnya, sering kita jumpai orang tua masih menyuapi anak yang sudah kelas 5 SD. Akibatnya anak tidak terlatih untuk bisa makan sendiri. Perilaku makan yang kurang tepat juga seperti kebiasaan orang tua ketika menenangkan anak yang sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori (permen, minuman ringan, coklat, dsb.). Akibatnya anak kekenyangan dan malas makan.
Tips: Perhatikan dan ubah kebiasaan dan perilaku orang tua kapanpun, termasuk perilaku makan. Ingat, anak merekam, belajar dan menerapkan semua hal yang ia dapat dari lingkungan sekitarnya, terutama orang tuanya. Biarkan anak mencoba memakan makanan sendiri sejak dini, tanpa disuapi.
5. Munculnya sikap negativistik รจ fase normal yang dilewati tiap anak.
Pada usia di atas 2 tahun, anak sering membangkang / tidak mau patuh. Saat makan tiba, anak terkadang bilang tidak mau, makanannya suka dilepeh atau dilempar, dsb. Ini disebut sikap negativistik. Sikap negativistik merupakan fase normal yang dilalui tiap anak usia balita. Sikap ini juga suatu bagian dari tahapan perkembangannya untuk menunjukkan keinginan untuk independent . Jadi, batita umumnya ditandai dengan “AKU”, artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain; intinya power. Nah banyak orang tua yang tidak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Ada orang tua yang mengancam anaknya bahkan memukul. Cara-cara tersebut harus dihindari. Justru semakin anak pada usia ini dipaksa, justru akan makin melawan (sebagai wujud negativistiknya) . Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang sampai dewasa tidak makan (tidak doyan) nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.
Tips: Pahami kondisi anak dengan baik. Jadilah orang tua yang otoritatif. Artinya bersikap tidak memaksa, tetapi juga tidak membiarkan begitu saja. Bina komunikasi yang baik dengan anak. Bersabarlah menghadapi anak.
Ingat, rumah adalah “lembaga pendidikan” pertama dan utama bagi anak.
6. Anak sedang sakit (sedih)
Anak tidak mau makan dapat juga disebabkan karena anak sedang sakit atau sedang sedih. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan cerewet, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.
Tips: Kembali pada konsep bina komunikasi yang baik. Jangan paksakan anak kalau tidak mau makan. Beri makanan ringan yang padat kalori, seperti makaroni skutel, dsb.
Yang jelas dan perlu diingat baik-baik oleh tiap orang tua adalah, seberapapun anak tidak mau/susah makan, ia tidak akan membiarkan dirinya kelaparan! Selama mentalnya sehat. Artinya, begitu ia kelaparan, maka ia akan makan.
Tetaplah kreatif mengolah dan menyajikan makanan, bina komunikasi yang baik, terus belajar menjadi orang tua dan memahami kondisi anak, dan bersabar.
Itu beberapa tips dari kami. Tetapi ada lagi beberapa tips dan cara lainnya untuk mengatasi anak yang sulit makan, antara lain:
Ciptakanlah suasana makan yang menyenangkan dengan berbagai kreasi yang dapat anda lakukan, misalnya menghidangkan makanan dengan aneka bentuk dan wadah yang menarik.
Hindarkan gaya memaksa dan mengancam dalam membujuk anak. Selama waktu makan, minimalkan gangguan, misalnya matikan televisi dan jauhkan buku atau mainan dari meja makan.
Libatkanlah anak Anda untuk menyiapkan makanan, misalnya dengan meminta pertolongannya untuk mengambilkan buah atau sayur di swalayan maupun membantu menyiapkan meja makan. Selain itu, anak anda memerlukan contoh dari orang tuanya. Bila anda mengkonsumsi makanan sehat, maka anak akan mencontoh pola makan anda sebagai orang tua.
Hindari memberi iming-iming makanan penutup sebagai hadiah. Hal ini dapat menyiratkan bahwa makanan penutup merupakan makanan yang paling enak dan baik untuk anak. Selain itu, dapat meningkatkan keinginan mengkonsumsi makanan manis bagi anak. Anda dapat memberikan makanan penutup selama 2 hari dalam seminggu, sedangkan pada pekan berikutnya tidak anda berikan. Buah, yogurt atau makanan sehat lain dapat anda ganti sebagai makanan penutup.
Batasi pemberian minuman di sela-sela waktu makan. Minuman rendah lemak maupun jus buah segar memang penting untuk anak, namun bila ananda terlalu banyak minum, tidak akan ada tempat yang cukup untuk makanan maupun kudapan sehat yang bisa masuk ke perut anak.
Hmm.., itulah beberapa kumpulan tips terbaru dan cara lengkap dalam mengatasi masalah susah makan pada anak khususnya pada masa-masa balita. Semoga saja bermanfaat bagi Anda, para orang tua yang memiliki balita sulit makan. Selamat mencoba.
Biasanya masalah semacam ini sering kali dijumpai pada mereka yang berusia anak 1-4 tahun. Ada banyak hal yang menyebabkan anak susah makan.sebab bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhankebutuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb. Apalagi jika masih dalam tahap pengenalan makanan baru.
Berikut ini adalah beberapa tips singkat cara mengatasi agar anak balita Anda senang makan
1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.
Salah satu penyebab adalah anak merasa bosan dengan menu makanan sebab Menu makan saat bayi (usia di atas 6 bulan) sering kali sama atau itu-itu saja tentu saja hal itu akan membuat anak bosan serta malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yang campur aduk antara lauk pauk seperti makanan diblender jadi satu. Sama seperti orang dewasa, kalau kita makan dengan menu yang sama tiap hari dan disajikan dengan campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dengan pengenalan makanan kasar.
Tips: Anda dapat memvariasikan menu makan anak. Jika perlu buatlah menu makan anak minimal selama 1 minggu hal tersebut dimaksudkan untuk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung kreativitas para ibu memberikan makanan bervariasi. Contohnya kalau anak tidak mau nasi, mungkin bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yang menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hiasi dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.
2. Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan.
Hal ini akan mengakibatkan anak tidak merasa lapar. Seperti permen, minuman ringan, coklat, hingga snack ber-MSG, dsb. Akibatnya ketika jam makan tiba anak sudah kekenyangan, dan malah tidak mau makan.
Tips: Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat seperti potongan buah, sayur kukus, keju, yoghurt, es krim, cake buatan ibu, dsb.
3. Minum susu terlalu banyak.
Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan dewa yang bisa menggantikan makanan utama seperti nasi, sayur dan lauk pauknya Orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar. Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti dengan susu..Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1 tahun, kehadiran susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib. Secara gizi, susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja. Sementara kalsium dan fosfor ini dapat kita temukan dengan mudah pada jenis ikan-ikanan, sayuran dan buah-buahan.
Tips: Saatnya mengurangi susu. Anaka usia di atas 1 tahun karena kebutuhan susu hanya 2 gelas sehari. Mulailah melatih anak dengan berbagai jenis makanan baru. Ubah pola pikir orang tua yang terlalu “mendewakan” susu sebagai makanan anak.
4. Pengaruh kebiasaan orang tuanya.
Anak suka meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya, terutama orang tuanya. Banyak perilaku yang dilakukan orang tuanya yang mempengaruhi perilaku makan anak. Misalnya anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang malas makan, misalnya diet, akan mengembangkan perilaku malas makan juga. Perilaku lainnya, sering kita jumpai orang tua masih menyuapi anak yang sudah kelas 5 SD. Akibatnya anak tidak terlatih untuk bisa makan sendiri. Perilaku makan yang kurang tepat juga seperti kebiasaan orang tua ketika menenangkan anak yang sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori (permen, minuman ringan, coklat, dsb.). Akibatnya anak kekenyangan dan malas makan.
Tips: Perhatikan dan ubah kebiasaan dan perilaku orang tua kapanpun, termasuk perilaku makan. Ingat, anak merekam, belajar dan menerapkan semua hal yang ia dapat dari lingkungan sekitarnya, terutama orang tuanya. Biarkan anak mencoba memakan makanan sendiri sejak dini, tanpa disuapi.
5. Munculnya sikap negativistik รจ fase normal yang dilewati tiap anak.
Pada usia di atas 2 tahun, anak sering membangkang / tidak mau patuh. Saat makan tiba, anak terkadang bilang tidak mau, makanannya suka dilepeh atau dilempar, dsb. Ini disebut sikap negativistik. Sikap negativistik merupakan fase normal yang dilalui tiap anak usia balita. Sikap ini juga suatu bagian dari tahapan perkembangannya untuk menunjukkan keinginan untuk independent . Jadi, batita umumnya ditandai dengan “AKU”, artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain; intinya power. Nah banyak orang tua yang tidak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Ada orang tua yang mengancam anaknya bahkan memukul. Cara-cara tersebut harus dihindari. Justru semakin anak pada usia ini dipaksa, justru akan makin melawan (sebagai wujud negativistiknya) . Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang sampai dewasa tidak makan (tidak doyan) nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.
Tips: Pahami kondisi anak dengan baik. Jadilah orang tua yang otoritatif. Artinya bersikap tidak memaksa, tetapi juga tidak membiarkan begitu saja. Bina komunikasi yang baik dengan anak. Bersabarlah menghadapi anak.
Ingat, rumah adalah “lembaga pendidikan” pertama dan utama bagi anak.
6. Anak sedang sakit (sedih)
Anak tidak mau makan dapat juga disebabkan karena anak sedang sakit atau sedang sedih. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan cerewet, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.
Tips: Kembali pada konsep bina komunikasi yang baik. Jangan paksakan anak kalau tidak mau makan. Beri makanan ringan yang padat kalori, seperti makaroni skutel, dsb.
Yang jelas dan perlu diingat baik-baik oleh tiap orang tua adalah, seberapapun anak tidak mau/susah makan, ia tidak akan membiarkan dirinya kelaparan! Selama mentalnya sehat. Artinya, begitu ia kelaparan, maka ia akan makan.
Tetaplah kreatif mengolah dan menyajikan makanan, bina komunikasi yang baik, terus belajar menjadi orang tua dan memahami kondisi anak, dan bersabar.
Itu beberapa tips dari kami. Tetapi ada lagi beberapa tips dan cara lainnya untuk mengatasi anak yang sulit makan, antara lain:
Ciptakanlah suasana makan yang menyenangkan dengan berbagai kreasi yang dapat anda lakukan, misalnya menghidangkan makanan dengan aneka bentuk dan wadah yang menarik.
Hindarkan gaya memaksa dan mengancam dalam membujuk anak. Selama waktu makan, minimalkan gangguan, misalnya matikan televisi dan jauhkan buku atau mainan dari meja makan.
Libatkanlah anak Anda untuk menyiapkan makanan, misalnya dengan meminta pertolongannya untuk mengambilkan buah atau sayur di swalayan maupun membantu menyiapkan meja makan. Selain itu, anak anda memerlukan contoh dari orang tuanya. Bila anda mengkonsumsi makanan sehat, maka anak akan mencontoh pola makan anda sebagai orang tua.
Hindari memberi iming-iming makanan penutup sebagai hadiah. Hal ini dapat menyiratkan bahwa makanan penutup merupakan makanan yang paling enak dan baik untuk anak. Selain itu, dapat meningkatkan keinginan mengkonsumsi makanan manis bagi anak. Anda dapat memberikan makanan penutup selama 2 hari dalam seminggu, sedangkan pada pekan berikutnya tidak anda berikan. Buah, yogurt atau makanan sehat lain dapat anda ganti sebagai makanan penutup.
Batasi pemberian minuman di sela-sela waktu makan. Minuman rendah lemak maupun jus buah segar memang penting untuk anak, namun bila ananda terlalu banyak minum, tidak akan ada tempat yang cukup untuk makanan maupun kudapan sehat yang bisa masuk ke perut anak.
Hmm.., itulah beberapa kumpulan tips terbaru dan cara lengkap dalam mengatasi masalah susah makan pada anak khususnya pada masa-masa balita. Semoga saja bermanfaat bagi Anda, para orang tua yang memiliki balita sulit makan. Selamat mencoba.
Kamis, 02 Februari 2012
Mengatasi Tidur Mendengkur
Mendengkur merupakan masalah tidur yang bisa dialami pria dan wanita. Meskipun umum terjadi, mendengkur tetap saja mengganggu terutama pada teman tidur. Mendengkur saat tidur terkadang hanya dianggap sepele, hanya karena kelelahan saja. Padahal, kebiasaan mendengkur menunjukkan adanya masalah dalam halkesehatan.
Jika dilihat dari frekuensinya, mendengkur merupakan sebuah gangguan tidur yang bisa menimbulkan baik konsekuensi medis maupun sosial.
“Pernah pada suatu waktu, saya tidur sama teman di daerah, bunyi dengkurannya bukan main, sangat menggangu, saya tidak dapat tidur dibuatnya. Telinga saya sudah ditutup dengan bantal, tetapi masih saja kedengaran bunyi dengkurannya”. Karena tidak tahan mendengarnya, saya membangunkannya kemudian menyuruhnya miring, setelah itu baru saya dapat tidur.
Ingin tahu cara menghentikan dengkuran? Ada beberapa cara sederhana yang bisa anda lakukan.
Jika dilihat dari frekuensinya, mendengkur merupakan sebuah gangguan tidur yang bisa menimbulkan baik konsekuensi medis maupun sosial.
“Pernah pada suatu waktu, saya tidur sama teman di daerah, bunyi dengkurannya bukan main, sangat menggangu, saya tidak dapat tidur dibuatnya. Telinga saya sudah ditutup dengan bantal, tetapi masih saja kedengaran bunyi dengkurannya”. Karena tidak tahan mendengarnya, saya membangunkannya kemudian menyuruhnya miring, setelah itu baru saya dapat tidur.
Ingin tahu cara menghentikan dengkuran? Ada beberapa cara sederhana yang bisa anda lakukan.
Langganan:
Postingan (Atom)